Tenis adalah olahraga seru dan menyehatkan jika dilakukan dengan cara yang tepat. Yuk kenali bagian tubuh yang perlu dijaga dan tips bermain lebih aman agar tetap nyaman dan konsisten. Baca selengkapnya!
Beberapa tahun belakangan, permainan tenis semakin diminati dan digemari oleh penduduk Indonesia dan dunia, lebih tepatnya kaum muda mudi. Bahkan sudah banyak lomba berskala internasional digelar untuk permainan tenis sendiri. Mari kita kenali olahraga tenis lapangan lebih detail.
Tenis lapangan adalah permainan yang menggunakan bola (sebesar kepalan tangan) sebagai benda yang dipukul menggunakan raket dan dimainkan oleh minimal dua pemain di lapangan yang dibatasi oleh jaring setinggi kira-kira satu meter. Cara bermainnya adalah dengan memukul bola agar jatuh di dalam area pemain lawan agar dapat menambah skor untuk memenangkan permainan. Olahraga tenis termasuk olahraga yang high intensity dan high impact sehingga dapat memungkinkan terjadinya cedera.
Kemungkinan cedera tenis dapat terjadi kepada siapapun baik pemain profesional maupun amatir. Berikut beberapa jenis cedera tenis yang sering dialami:
Tennis elbow atau juga dikenal dengan lateral epicondylitis merupakan peradangan pada sendi di siku bagian luar yang menyebabkan nyeri dan terkadang juga lemah pada tangan. Penyebab yang dapat menyebabkan terjadinya tennis elbow adalah ketika salah satu otot di lengan bawah, yaitu extensor carpi radialis brevis (ECRB) mengalami kelemahan akibat penggunakan yang berulang-ulang atau berlebihan. Gejala yang umumnya dirasakan adalah nyeri di sisi luar siku yang menjalar hingga ke lengan bawah dan pergelangan tangan.
Sprain seringkali dikenal sebagai keseleo. Pada sprain, yang terjadi sebenarnya adalah tertarik, mengendur, atau robeknya ligamen. Keseleo pada pergelangan tangan mengakibatkan nyeri atau instabilitas pada beberapa gerakan pergelangan tangan.
Rotator cuff adalah kelompok otot dan tendon yang berperan dalam menjaga stabilitas sendi bahu, terdiri atas supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subscapularis. Masing-masing otot dan tendon mempunyai peranan spesifik pada gerakan bahu, sehingga secara keseluruhan bahu dapat bergerak dengan leluasa, tetapi juga tetap stabil pada posisinya. Tendinitis atau peradangan pada satu atau beberapa tendon rotator cuff menyebabkan nyeri, kaku dan keterbatasan gerak sendi bahu. Tendinitis rotator cuff ini bisa disebabkan karena cedera akut atau overload. Dalam permainan tenis, kondisi ini sering terjadi akibat gerakan berulang, terutama servis dan pukulan overhead. Menggunakan bahu untuk mengkompensasi kelemahan otot inti atau postur tubuh yang kurang baik dapat meningkatkan risiko cedera ini.
Tendon patella menghubungkan antara tulang tempurung atau patella dengan tulang kering atau tibia. Lokasinya di area depan, tepat di bawah tonjolan tempurung lutut. Tendinitis atau radang pada tendon ini memberikan gejala berupa nyeri di area bawah tempurung lutut. Rasa sakit dan kekakuan ini dapat memburuk seiring waktu, terutama saat atau setelah aktivitas. Pada permainan tenis, tendinitis patella dapat disebabkan karena penggunaan berlebihan (misalkan lompatan dan pendaratan berulang), teknik yang keliru, ketidakseimbangan otot (misalnya otot quadriceps yang lemah ketimbang hamstring), penggunaan alas kaki yang tidak tepat, atau latihan terlalu berat. Usia yang semakin tua juga membuat lebih rentan terjadinya tendinitis patela.
Anterior cruciate ligament (ACL) adalah salah satu ligamen penopang stabilitas sendi lutut yang penting. Fungsinya adalah mempertahankan sendi lutut dari pergeseran dan beban ke arah depan dan rotasi internal. ACL biasanya menjadi ruptur pada gerakan berhenti mendadak, berubah arah mendadak, atau salah mendarat ketika melompat, yang sering terjadi pada olahraga tenis. Robekan total pada ACL memberikan beberapa gejala seperti bunyi "pop" atau "krek" yang terdengar di lutut saat cedera, disertai nyeri dengan bengkak pada lutut dalam beberapa hari setelahnya. Biasanya, setelah bengkak mereda, sendi lutut kemudian menjadi tidak stabil, seringkali memberikan sensasi goyang atau giving way. Sendi lutut juga menjadi tidak bisa menekuk atau melurus maksimal. Diagnosis ruptur ACL, baik total ataupun sebagian, ditegakkan melalu pemeriksaan MRI.
Selain beberapa cedera yang sudah disebutkan, olahraga tenis yang kurang tepat juga dapat berakibat pada sprain ankle. Ankle tersusun atas beberapa tulang seperti talus dan calcaneus, diikat dari tulang ke tulang oleh rangkaian ligamen kompleks yang bertujuan menjaga stabilitas sendi ankle. Ligamen yang sering mengalami sprain adalah anterior talofibular ligament (ATFL) dan calcaneofibular ligament (CFL). Apabila cedera terjadi lebih parah lagi, kadang-kadang posterior talofibular ligament (PTFL) bisa ikutan mengalami sprain juga.
Pada tenis, perubahan arah gerakan kaki secara mendadak seringkali menyebabkan cedera pada ligamen ankle. Selain itu, bermain terlalu keras hingga kaki lemas dapat mengurangi keseimbangan, berakibat pada pergelangan kaki lebih mudah mengalami keseleo.
Beberapa hal perlu diperhatikan sebelum dan selama bermain tenis, agar terhindar dari risiko cedera:
Sebelum bermain, sebaiknya selalu dibiasakan melakukan pemanasan secara serius. Demikian juga setelah bermain dengan intens, sebaiknya melakukan pendinginan secara menyeluruh.
Apabila belum biasa bermain tenis, beberapa latihan perlu dilakukan khususnya untuk memperkuat otot-otot regio bahu, siku, pergelangan kaki, panggul dan lutut agar tidak mudah mengalami cedera atau overload.
Gunakan peralatan yang tepat, mulai dari alas kaki yang suportif untuk mendukung pergelangan kaki, juga pakaian yang nyaman dan lentur untuk mencegah batasan gerakan.
Tenis dapat dimainkan di beberapa tipe permukaan. Permukaan yang berbeda memberikan permainan yang berbeda dan risiko cedera yang berbeda pula. Hal ini perlu diperhatikan selama bermain tenis.
Apabila tubuh memberikan sensasi nyeri, meskipun sedikit, sebaiknya permainan tidak perlu terlalu ngoyo atau dipaksakan, ketimbang nantinya terjadi cedera yang lebih serius.
Apabila sudah terjadi cedera, beberapa hal perlu diperhatikan:
Antara lain Rest (Istirahat), Ice (Es), Compression (Kompresi), dan Elevation (Elevasi) untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan akut pasca cedera.
Apabila cedera masih dirasakan mengganggu setelah 2-3 hari pasca kejadian, sebaiknya membawa diri ke dokter Orthopedi untuk mendapat evaluasi dan konsultasi.
Seringkali diperlukan program rehabilitasi termasuk fisioterapi yang direkomendasikan secara bertahap untuk memperkuat otot dan memulihkan gerakan.
Beberapa kasus yang berat, atau penyakit yang persisten meskipun sudah menjalani fisioterapi maksimal, bisa saja membutuhkan tindakan operasi agar dapat sembuh total.
Setelah diizinkan bermain oleh dokter Ortopedi, aktivitas biasanya ditingkatkan secara bertahap mulai dari lari-lari kecil, sprint, hingga boleh lompat dan bermain tenis seperti sedia kala lagi.
*Artikel ini di-review oleh dr. Toto Suryo Efar, Sp.OT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine.
www.dokternicolaas.com
instagram: @dokternicolaas
Artikel lainnya dari prof nicolaas
Olahraga itu menyehatkan, tapi tahukah kamu kalau berlebihan justru bisa melemahkan tulang? Risiko seperti stress fracture hingga osteopenia bisa muncul tanpa disadari. Baca selengkapnya untuk tahu alasannya, di sini!
SelengkapnyaPeradangan menjadi benang merah berbagai penyakit sendi. Diet sehat seperti Mediterania dan DASH bisa bantu mengurangi nyeri sendimu. Yuk, bahas makanan terbaiknya!
Selengkapnya