Olahraga yang Berlebihan dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Tulang

Olahraga itu menyehatkan, tapi tahukah kamu kalau berlebihan justru bisa melemahkan tulang? Risiko seperti stress fracture hingga osteopenia bisa muncul tanpa disadari. Baca selengkapnya untuk tahu alasannya, di sini!



Olahraga identik dengan kesehatan secara positif. Olahraga yang dilakukan dengan baik adalah modal penting untuk meningkatkan kesehatan tubuh, memperkuat kesehatan otot dan tulang, memperbaiki kesehatan jantung, meningkatkan imunitas, dan memberikan dampak baik secara psikologis dalam kegiatan sehari-hari. Olahraga yang baik jika mengikuti anjuran dari American Heart Association adalah minimal 150 menit per minggu dengan aerobik intensitas sedang atau minimal 75 menit per minggu dengan aktivitas aerobik intesitas berat, atau kombinasi keduanya. Olahraga ini sebaiknya dilakukan dengan beberapa sesi tersebar merata sepanjang minggu. Anjuran ini tentunya berlaku untuk masyarakat pada umumnya, karena ketika diaplikasikan kepada kalangan sport enthusiast atau atlit tentunya durasi dan intensitas akan berubah mengikuti kebutuhan spesifik individu.

Olahraga yang dilakukan dengan baik seperti anjuran di atas akan memberikan dampak yang positif. Namun jika olahraga dilakukan dengan durasi atau intensitas yang berlebihan, secara jangka panjang justru akan berdampak negatif terhadap kesehatan tulang. Beberapa hal yang bisa terjadi antara lain stress fracture dan osteopenia. Stress fracture adalah kondisi dimana terdapat diskontinuitas tulang yang diakibatkan oleh repetitif mikro trauma terhadap tulang. Sedangkan osteopenia adalah kondisi dimana terdapat penurunan kepadatan tulang namun secara derajat keparahan masih dibawah osteoporosis.

Stress fracture bisa terjadi pada kondisi dengan aktivitas olahraga berlebihan. Sebagai contoh pada atlit atletik yang banyak melibatkan latihan lari dan lompat dimana terdapat beban berlebih pada tungkai bawah. Selain atlit, personil militer juga biasa mengalami stress fracture, sebagaimana kita tahu bahwa latihan fisik personil militer banyak melibatkan lari, lintas alam, ditambah biasanya aktivitas tersebut dilakukan dengan membawa ransel yang berat. Stress fracture bisa terjadi karena terdapat trauma mikro yang berulang pada tulang. Pada kondisi olahraga dengan durasi normal, otot yang berfungsi menyerap energi dan benturan pada tulang masih bekerja dengan optimal serta tulang yang mendapatkan trauma mikro masih diberikan kesempatan untuk pulih dengan sendirinya. Namun pada kondisi olahraga berlebihan, kemampuan otot untuk menyerap benturan sudah tidak optimal. Akibatnya benturan diterima langsung oleh tulang, terjadi mikro trauma yang berulang dan muncul retakan yang tidak mampu sembuh dengan sendirinya. Akibat yang dirasakan biasanya nyeri pada bagian ekstrimitas bawah, bisa pada tungkai atau telapak kaki, tergantung dimana lokasi retakan / stress fracture terjadi. 

Jika dicurigai terdapat stress fracture, pemeriksaan ke dokter orthopedi segera adalah kunci untuk mencegah cedera bertambah parah dan mengoptimalkan proses penyembuhan. Jangan lupa untuk menceritakan riwayat aktivitas sebelum munculnya cedera, bagaimana karakteristik nyeri, apakah ada riwayat kondisi yang sama sebelumnya, riwayat asupan nutrisi sampai dengan detail aktivitas / olahraga yang dijalani seperti beban yang dibawa, alas kaki yang dipakai dan permukaan tempat aktivitas / olahraga. Pemeriksaan lanjutan bisa berupa radiologi x-ray, hanya saja dikarenakan gambaran stress fracture biasanya samar-samar atau cenderung tidak terlihat, terkadang dokter ortopedi akan melakukan pemeriksaan x-ray ulang 2-4 minggu setelah pemeriksaan pertama. Selain itu, pemeriksaan MRI juga bisa dilakukan karena pemeriksaan ini merupakan modalitas yang paling akurat untuk mendeteksi stress fracture.

Setelah diagnosa ditegakkan, penanganan selanjutnya adalah istirahat. Pada kondisi ini, aktivitas yang memicu atau memperberat nyeri harus dihentikan, terutama aktivitas yang melibatkan beban tinggi pada area nyeri. Penggunaan kruk atau sepatu ortotik disarankan untuk mengurangi beban dan mempercepat penyembuhan. Secara optimal, kondisi stress fracture bisa membutuhkan 6-8minggu untuk sembuh. Selain istirahat, kompres es, penggunaan brace / deker, konsumsi obat-obatan pengurang nyeri sesuai anjuran dokter ortopedi. Aktivitasi olahraga bisa dimulai kembali secara bertahap jika sudah bebas dari nyeri dan utamakan olahraga dengan beban rendah / low impact  seperi berenang atau bersepeda.

Osteopenia juga bisa terjadi pada kondisi olahraga yang berlebihan. Kondisi ini merupakan hal yang sangat bertentangan dengan teori umum bawah olahraga akan menstimulasi pertumbuhan tulang. Osteopenia pada kondisi olahraga berlebihan bisa terjadi jika disertai gangguan hormonal, terutama pada wanita. Dimana kondisi gangguan hormonal ini merupakan akibat dari aktivitas fisik berat / olahraga yang berlebihan dalam jangka panjang dan diikuti dengan asupan nutrisi yang kurang. Pada kondisi ini, bisa diawali dengan perubahan atau berhentinya siklus menstruasi yang diikuti dengan penurunan hormon estrogen. Hormon estrogen adalah hormon penting dalam keseimbangan kesehatan tulang. Pada kondisi dimana hormon ini menurun, pembentukan tulang dan usaha tubuh untuk mempertahankan tulang yang sehat menurun, sebagaimana dialami wanita setelah menopause. Tanpa estrogen yang cukup, keseimbangan antara pembongkaran tulang dan pembentukan tulang baru tidak tercapai, laju pembentukan tulang tidak bisa mengimbangi pembongkaran tulang sehingga terjadilah kondisi osteopenia. 

Selain gangguan hormon, osteopenia yang terjadi pada kondisi olahraga yang berlebihan juga harus disertai asupan nutrisi yang tidak tercukupi. Pada atlit dalam kondisi atau fase latihan tertentu, kondisi defisit kalori disertai aktivitas olahraga intensif bisa mengakibatkan kekurangan nutrisi penting untuk pembentukan tulang yaitu kalsium dan vitamin D. Kondisi ini bisa diperparah dengan resiko stress fracture yang justru akan menghambat performa puncak para atlit ini. 

Sebagai kesimpulan, olahraga adalah baik untuk tubuh kita, terutama kesehatan otot dan tulang. Namun durasi dan intensitasnya harus dikontrol dengan baik. Pada beberapa kondisi seperti atlit atau personil militer yang mengharuskan durasi dan intensitas olahraga melebihi batas normal, pastikan istirahat dan asupan nutrisi tercukupi sehingga tidak terjadi dampak negatif seperti stress fracture dan osteopenia

*Artikel ini di-review oleh dr. Dananjaya Putramega, Sp.OT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine.

www.dokternicolaas.com

instagram: @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Tenis dan Kemungkinan Cederanya

Tenis adalah olahraga seru dan menyehatkan jika dilakukan dengan cara yang tepat. Yuk kenali bagian tubuh yang perlu dijaga dan tips bermain lebih aman agar tetap nyaman dan konsisten. Baca selengkapnya!

Selengkapnya

Makanan Baik Untuk Kesehatan Sendi

Peradangan menjadi benang merah berbagai penyakit sendi. Diet sehat seperti Mediterania dan DASH bisa bantu mengurangi nyeri sendimu. Yuk, bahas makanan terbaiknya!

Selengkapnya