Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang dapat menyebabkan perubahan postur dan nyeri. Pilates dan yoga dapat membantu meningkatkan fungsi tubuh serta mengurangi gejala.
Olahraga Pilates dan Yoga untuk Penderita Skoliosis
Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang, di mana susunan tulang melengkung ke samping sekaligus rotasi, membentuk huruf C atau S. Pada kasus ringan, kelengkungan ini bisa tidak disadari dan tidak memberikan gejala apapun. Semakin besar sudut keemiringan, skoliosis menimbulkan gejala seperti perubahan postur tubuh, disertai pegal hingga nyeri pinggang atau leher. Pada kasus yang lebih berat, skoliosis bisa terlihat kasat mata, dan menimbulkan gejala nyeri punggung persisten, sesak napas, atau terkadang bisa muncul nyeri menjalar ke bokong dan paha.
Sebagian besar kasus skoliosis bersifat idiopatik, yang artinya tidak ada penyebab khusus yang diketahui. Di samping itu, ada juga penderita skoliosis yang disebabkan oleh penyakit tertentu seperti penuaan pada bantalan sendi antar-ruas tulang belakang (skoliosis degeneratif), bawaan lahir (skoliosis kongenital), penyakit saraf dan otot (skoliosis neuromuskular), cedera berat, atau infeksi.
Derajat keparahan skoliosis dinilai dari pemeriksaan rontgen tulang belakang, sebisa mungkin memperlihatkan ruas-ruas tulang dari leher hingga tulang ekor. Dari rontgen tersebut, biasanya diukur sudut kemiringan kurvatura tulang belakang, yang disebut sebagai sudut Cobb. Sudut yang besar, yaitu di atas 40 derajat, biasanya diatasi dengan operasi koreksi tulang belakang. Sementara itu, sudut yang lebih kecil biasanya diatasi dengan observasi semata atau dengan brace. Untuk penderita skolosis dengan sudut kecil hingga sedang, sekitar 10-40 derajat, olahraga menjadi bagian penting dari pengobatan. Pilates dan yoga merupakan dua olahraga yang banyak dianjurkan, mengapa bisa begitu?
Pilates dan yoga merupakan olahraga ringan (low-impact) yang sama-sama berfokus pada gerakan resistensi tubuh sendiri, disertai pengaturan pernapasan, bertujuan untuk menyelaraskan kesehatan raga dan jiwa sekaligus. Meskipun terlihat mirip, kedua olahraga ini mempunyai perbedaan mendasar:
Sejarah: Pilates ditemukan lebih baru, yaitu oleh Joseph Pilates di akhir World War I, tadinya digunakan sebagai rehabilitasi untuk prajurit yang cedera. Teknik ini kemudian dibawa ke Amerika Serikat pada tahun 1923, di mana metode rehabilitatif ini berevolusi sedikit demi sedikit menjadi suatu olahraga yang populer. Sementara itu, yoga sudah menjadi kebiasaan meditatif sejak lebih dari 5000 tahun lalu, seperti tertuang dalam kitab kuno budaya Hindu, tadinya disebut sebagai Vedas.
Prinsip: Pilates berfokus pada penyatuan pikiran dan tubuh melalui konsentrasi, kontrol, pusat tubuh (centering), presisi, pernapasan, dan alur gerakan (flow). Pilates bertujuan membangun kekuatan inti, memperbaiki postur, keseimbangan, dan fleksibilitas melalui gerakan terkontrol. Sementara itu, prinsip utama yoga adalah mencapai harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa melalui integrasi latihan fisik (asana), pernapasan (pranayama), dan meditasi. Yoga berfokus pada kesadaran diri (mindfulness), peningkatan fleksibilitas, serta ketenangan batin
Alat bantu: Pilates biasanya membutuhkan peralatan yang relatif lebih kompleks seperti reformer (alat dengan rangka bergerak dan tali), cadillac, atau pilates ring. Sementara itu, yoga cenderung menggunakan alat yang lebih sederhana seperti balok, strap, atau bolster.
Baik pilates maupun yoga merupakan metode olahraga yang efektif untuk skoliosis. Meskipun tidak dapat menyembuhkan kelengkungan struktural, baik pilates maupun yoga dapat bermanfaat dalam beberapa hal:
Kekuatan: Pilates memperkuat otot perut dan punggung yang menopang tulang belakang, sehingga meningkatkan kekuatan. Sementara itu, yoga menargetkan otot konveks yang lemah, memperkuat otot sisi tersebut untuk dapat menyokong tulang belakang.
Fleksibilitas: Pilates dan yoga membantu merilekskan sisi konkaf kurva, sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas tubuh.
Nyeri: Pilates dan yoga dapat mengurangi nyeri dan kekakuan kronik, terutama pada pinggang dan leher yang seringkali bergejala akibat ketegangan otot.
Keseimbangan: Pilates dan yoga membantu menyeimbangkan kerja otot yang tidak simetris, sehingga meningkatkan keseimbangan.
Postur: Pilates dan yoga melatih kesadaran tubuh (postural awareness) untuk berdiri lebih tegak, sehingga dapat memperbaiki postur tubuh.
Progresi kurva: Beberapa penelitian menemukan bahwa latihan yang rutin berpotensi mengurangi sudut Cobb, mencegah kurva menjadi bertambah parah.
Gerakan pilates yang dinilai berguna untuk penderita skoliosis:
Side stretching
Core activation
Single leg stand
Split stance with arm reach
Reformer
Gerakan yoga yang dinilai berguna untuk penderita skoliosis:
Half Forward Bend (Ardha Uttanasana)
Downward-Facing Dog (Adho Mukha Svanasna)
Locust Pose (Salabhasana)
Bridge Pose (Setu Bandha)
Side Plank (Vasisthasana)
Side-Reclining Leg Lift (Anantasana)
Mountain Pose (Tadasana)
Secara umum, pilates dan yoga bisa dijadikan regimen latihan yang efektif dalam pengobatan skoliosis derajat ringan-sedang. Meskipun demikian, beberapa hal perlu diperhatikan, seperti melakukan latihan secara konsisten untuk mendapatkan manfaat secara utuh. Latihan harus dilakukan di bawah supervisi fisioterapis atau instruktur yang berpengalaman dengan skoliosis. Selain itu, intensitas latihan juga mesti menyesuaikan dengan sudut kelengkungan skoliosis tanpa dipaksakan secara berlebihan. Tidak lupa, bila skoliosis ternyata tergolong berat, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis Orthopedi sebelum memulai latihan.
Sumber:
- Li F, Omar Dev RD, Soh KG, Wang C, Yuan Y. Effects of Pilates exercises on spine deformities and posture: a systematic review. BMC Sports Sci Med Rehabil. 2024 Feb 22;16(1):55. doi: 10.1186/s13102-024-00843-3.
- Gou Y, Lei H, Zeng Y, Tao J, Kong W, Wu J. The effect of Pilates exercise training for scoliosis on improving spinal deformity and quality of life: Meta-analysis of randomized controlled trials. Medicine (Baltimore). 2021 Oct 1;100(39):e27254. doi: 10.1097/MD.0000000000027254.
- Strauss A. Can I do Pilates with Scoliosis? Strauss Scoliosis Correction. https://www.hudsonvalleyscoliosis.com/pilates-with-scoliosis/
- Si W. Exploring the Effectiveness of Hatha Yoga as a Complementary Treatment for Adolescent Idiopathic Scoliosis: Clinical Effect and Future Research Directions. Int J Yoga. 2024 Jan-Apr;17(1):61-64. doi: 10.4103/ijoy.ijoy_201_23.
- Fishman LM. Isometric Yoga-Like Maneuvers Improve Adolescent Idiopathic Scoliosis-A Nonrandomized Control Trial. Glob Adv Health Med. 2021 Feb 24;10:2164956120988259. doi: 10.1177/2164956120988259.
- Fishman LM, Groessl EJ, Sherman KJ. Serial case reporting yoga for idiopathic and degenerative scoliosis. Glob Adv Health Med. 2014 Sep;3(5):16-21. doi: 10.7453/gahmj.2013.064.
Artikel ini ditulis oleh dr. Toto Suryo Efar, SpOT. dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine.
www.dokternicolaas.com
instagram: @dokternicolaas
Artikel lainnya dari prof nicolaas
Robotic surgery di bidang ortopedi membantu dokter melakukan operasi sendi dengan presisi tinggi berbasis data, meningkatkan akurasi pemasangan implan, meminimalkan trauma jaringan, dan mempercepat pemulihan pasien.
SelengkapnyaPRP adalah terapi biologis dari darah pasien sendiri. Dalam bidang ortopedi, PRP digunakan untuk membantu mempercepat penyembuhan dan regenerasi jaringan secara alami dan minim invasif.
Selengkapnya