Kram Otot

Otot Anda pernah terasa tertarik tiba-tiba dan nyeri hebat tak kunjung hilang? Bisa jadi itu kram otot! Yuk, kenali penyebab, gejala, dan cara mengatasinya agar tidak datang tiba-tiba lagi!



Apakah Anda pernah merasakan nyeri tiba-tiba dan hebat pada otot yang terasa seperti ditarik atau kejang, serta berlangsung cukup lama? Bisa jadi Anda mengalami kram otot. Kram otot adalah kontraksi atau kejang tiba-tiba yang tidak disengaja pada satu atau lebih otot. Kram bisa terjadi pada satu otot atau beberapa bagian otot, dan paling sering terjadi di bagian belakang betis. Kondisi ini sangat umum dan bisa berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa menit.

Penyebab Kram Otot

Penyebab pasti kram otot tidak selalu jelas dan sering kali bergantung pada konteks terjadinya kram. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kram.

1. Kelelahan atau aktivitas fisik berlebihan
Kram otot akibat kelelahan sering terjadi selama olahraga intens atau berkepanjangan. Hal ini umumnya dikaitkan dengan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Teori terbaru menyebutkan adanya peran kelainan pada saraf perifer, yang bisa menyebabkan kontraksi otot terus-menerus.

2. Dehidrasi dan gangguan elektrolit
Ketidakseimbangan elektrolit dapat memengaruhi kontraksi otot normal. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan kadar elektrolit mungkin tidak berkontribusi secara signifikan terhadap kram otot pada manusia.

3. Kompresi saraf dan aliran darah ke otot yang terganggu
Aktivitas otot bergantung pada sinyal dari saraf motorik serta pasokan energi melalui sirkulasi darah. Jika salah satu terganggu, kontraksi otot bisa menjadi tidak normal dan menyebabkan kram.

4. Kehamilan
Kram otot selama kehamilan sangat umum dan dapat dialami hingga 50% ibu hamil, terutama pada trimester ketiga dan sering terjadi di malam hari. Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, faktor-faktor yang mungkin berperan antara lain perubahan fungsi neuromuskular, peningkatan berat badan, kompresi saraf perifer, berkurangnya aliran darah ke otot, serta peningkatan aktivitas otot-otot tungkai. Ketidakseimbangan mineral, terutama rendahnya kadar kalsium dan magnesium, juga dapat menyebabkan kram akibat kurangnya pasokan elektrolit dan mineral penting ke otot kaki.

5. Kondisi medis dan obat-obatan tertentu
Beberapa kondisi seperti gangguan fungsi ginjal, sirosis hati, diabetes, dan gangguan saraf perifer dikaitkan dengan kram otot. Selain itu, penggunaan obat penurun kolesterol seperti statin dan obat hipertensi seperti diuretik dapat meningkatkan risiko kram.

6. Penuaan
Lansia cenderung mengalami penurunan massa otot, sehingga lebih rentan terhadap kram karena daya tahan dan kemampuan otot yang menurun untuk melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama.

Kram Kaki di Malam Hari (Nocturnal Leg Cramps)

Kondisi lain yang berhubungan dengan kram otot adalah kram kaki di malam hari. Ini adalah kontraksi otot yang menyakitkan dan terjadi di malam hari, terutama di kaki, dan paling sering dialami oleh individu berusia di atas 60 tahun. Otot betis adalah area yang paling sering terkena. Kram malam hari dapat sangat mengganggu kualitas tidur dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Faktor risikonya termasuk berdiri terlalu lama atau aktivitas fisik berat di siang hari. Faktor lain yang mungkin berperan adalah ketidakseimbangan elektrolit, gangguan neurologis, gangguan hormonal dan metabolik, serta kompresi arteri perifer. Penggunaan jangka panjang obat-obatan tertentu seperti diuretik, beta-blocker, dan statin juga dapat meningkatkan risiko. Kondisi ini sering dikaitkan dengan masalah medis lain seperti gagal jantung, sleep apnea, dan gangguan depresi.

Diagnosis dan Penanganan

Mendiagnosis kram otot relatif mudah. Pasien biasanya melaporkan nyeri otot hebat dan terasa tegang di area tertentu yang membaik setelah otot tersebut diregangkan. Pada kasus yang lebih kompleks atau menetap, pemeriksaan elektromiografi (EMG) dapat dilakukan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan mendeteksi kemungkinan kelainan neurologis.

Pengobatan dan Pencegahan

Penanganan tercepat dan paling efektif untuk kram otot adalah peregangan atau pijatan lembut pada otot yang terkena. Namun, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.
Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan antara lain: pemanasan yang cukup sebelum aktivitas fisik, menjaga hidrasi tubuh, serta mengonsumsi elektrolit tambahan seperti magnesium, terutama bagi individu yang sering berolahraga atau berusia lanjut.

Jika kram otot terjadi sangat sering atau mengganggu aktivitas harian, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Dalam kebanyakan kasus, kram otot tidak memerlukan perhatian medis khusus. Namun, bila kram terjadi sangat sering, terasa sangat parah, dipicu oleh paparan zat berbahaya, atau tidak membaik dengan penanganan biasa, sebaiknya dilakukan evaluasi medis lebih lanjut untuk menyingkirkan kondisi medis yang lebih serius.

*Artikel ini di-review oleh dr. Dananjaya Putramega, Sp.OT dan bekerja sama dengan Nicolaas Budhiparama, MD., PhD., SpOT(K) dari Nicolaas Institute of Constructive Orthopedic Research & Education Foundation for Arthroplasty & Sports Medicine.

www.dokternicolaas.com

instagram: @dokternicolaas

Share to

Artikel lainnya dari prof nicolaas

Cedera Rotator Cuff

Cedera rotator cuff sering dialami, tak hanya atlet tapi juga masyarakat umum, terutama seiring bertambahnya usia. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi bahu dan kualitas hidup. Kenali gejalanya, baca selengkapnya di artikel ini!

Selengkapnya

Peran Cangkok Tulang dalam Pemulihan Patah Tulang Berat

Fraktur atau patah tulang bisa sembuh alami, tapi pada kondisi tertentu diperlukan penanganan khusus seperti bone graft. Apa itu bone graft? Bagaimana jenis dan prosedurnya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut!

Selengkapnya

Kenali Penyakit Artritis Reumatoid: Gejala Hingga Cara Penanganannya

Sering disangka pengapuran, padahal berbeda! Artritis Reumatoid bisa menyerang siapa saja, bahkan usia muda. Kenali gejalanya yang datang-dan-pergi, penyebab autoimunnya, hingga penanganan medis dan terapinya di artikel ini.

Selengkapnya